KLENENGAN SLASA LEGEN

 

Karawitan merupakan bentuk kesenian musik yang telah menjadi kebanggan bagi orang  jawa, bahkan bagi bangsa Indonesia umumnya. Akan tetapi, kebanggan tersebut sepertinya masih belum dirasakan oleh semua kalangan dan generasi. Hal ini terlihat dari partisipasi masyarakat terhadap pelestarian karawitan itu sendiri. Para orang tua-lah yang kebanyakan masih berusaha melestarikan seni karawitan ini. Salah satu buktinya adalah saat Klenengan Selasa Legen yang dilaksanakan di Balai Seodjatmoko, Gramedia Surakarta pada hari Senin, 17 Desember 2012 kemarin.

 DSC04109

Gambar 1. Karawitan Putri Santi Laras

Klenengan Selasa Legen merupakan agenda rutin yang dilaksanakan oleh pihak Gramedia Pustaka. Kali ini (Senin, 17 Desember 2012) pengisi acara klenengan tersebut adalah dari kelompok karawitan putri Santi Laras. Kelompok tersebut berasal dari Kelurahan Joyosuran (kumpulan PKK RW. 06) Kecamatan Pasar Kliwon dengan anggota 20 orang yang dilatih oleh Bapak Kadaryadi. Disebut kelompok karawitan putri karena memang sebagian besar pemain gamelannya adalah perempuan. Akan tetapi, yang menjadi perhatian dalam kelompok karawitan tersebut adalah, para pemainnya adalah para ibu – ibu yang usia sudah lebih dari paruh baya, bahkan sudah ada yang sampai berusia 82 tahun.

 DSC04118

Gambar 2. Ibu – ibu pemain gamelan Santi Laras

DSC04119

Gambar 3. Ibu – ibu pesinden Santi Laras

Meskipun usia mereka sudah tidak muda lagi, tapi mereka terlihat begitu menikmati karawitan yang mereka mainkan. Lagu demi lagu mereka mainkan. Cara lagu – lagu yang ditampilkan dalam Klenenngan Slasa Legen ini agak unik karena ditampilakn dalam bentuk paketan. Ada 4 paket yang ditampilkan, yaitu :

  1. Paket pertama terdiri dari lagu Jamuran, Ayun – ayun, Langgam Wuyung, Lir ilir, Tansah Yaun – Ayun,Wajibe Dadi Murid.
  2. Paket kedua terdiri dari lagu Dolan Menyang Sala, Asmarandana, Puspanjala, Dayohe Teko dan selingan antara paket dua ke paket tiga adalah Mider Projo.
  3. Paket ketiga terdiri dari lagu Gugur Gunung, Sumyar (Keplok Alok), Sumyar (Mideringrat) dan selingan antara paket tiga ke paket empat adalah Langgam Ngenteni.
  4. Paket keempat terdiri dari lagu Langgam Dadi Ati, Leladran Jong Keri, Nahkaning Ndalu, Onde – onde kemudian di akhiri dengan penutup.

 

Melihat hal tersebut ada satu rasa kagum terhadap para ibu – ibu tersebut karena di tengah perkembangan trend saat ini mereka masih mau belajar dan mementaskan pertunjukkan karawitan kepada khalayak umum. Akan tetapi, di sisi lain, ada rasa miris karena tidak ada satupun pemuda ataupun pemudi yang masuk dan ikut memainkan gamelan dalam kelompok tersebut. Hal ini patut menjadi perhatian bagi kita semua karena bagaimanapun juga, yang dapat melestarikan kesenian adalah para pemudanya.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s