KKL Bukan Sekedar Jalan – Jalan

 

Mencetak seseorang yang berpendidikan serta memiliki kemampuan dan ketrampilan merupakan tujuan dari pendidikan tinggi di Indonesia. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 60 Tahun 1999 tentang Pendidikan Tinggi, disebutkan bahwa salah satu tujuan pendidikan tinggi adalah menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan, dan memperkaya khasanah ilmu pengetahuan, teknologi, dan kesenian untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat dan memperkaya kebudayaan nasional. Dengan melihat tujuan tersebut, sudah sangat jelas bahwa lulusan dari perguruan tinggi diharapkan memiliki kemampuan akademik dan menjadi profesional sesuai dengan bidang ilmu pengetahuan yang ditekuni di bangku kuliah. Sehingga, ketika seorang mahasiswa yang lulus dari  perguruan tinggi akan mampu memberikan kontribusi yang nyata kepada masyarakat dan akan lebih mudah diserap dunia kerja.

Perkuliahan memang merupakan pembekalan inti untuk memperoleh pengetahuan, akan tetapi hal tersebut tentu tidaklah cukup. Banyak terdapat perbedaan antara teori yang diperoleh saat kuliah dengan kenyataan yang terjadi di lapangan, sehingga masih diperlukan bentuk pembekalan lain yang memberikan pengalaman kepada mahasiswa mengenai kenyataan yang terjadi di lapangan. Salah satu upaya pembekalan tersebut adalah adanya kegiatan Kuliah Kerja Lapangan atau yang biasa disebut sebagai KKL.

Kuliah Kerja Lapangan (KKL) bukan merupakan hal yang asing lagi bagi mahasiswa. Kegiatan KKL merupakan kegiatan yang memadukan observasi, kunjungan dan wisata mahasiswa ke tempat – tempat, instansi, ataupun lembaga yang berkaitan dengan disiplin ilmu ataupun bidang yang ditekuni mahasiswa di perguruan tinggi. Objek kunjungan KKL mahasiswa dapat berupa tempat, instansi atau lembaga yang berhubungan dengan kewirausahaan, sains, IPTEK, maupun pendidikan.

Berbeda dengan Kuliah Kerja Nyata (KKN), kegiatan KKL lebih banyak melibatkan kegiatan pengamatan atau observasi dan mahasiswa memang belum diwajibkan untuk melakukan pemberdayaan kepada masyarakat. Sedangkan kegiatan KKN memang mewajibkan mahasiswa untuk langsung memberikan kontribusi kepada masyarakat melalui pengabdian dan pemberdayaan di lingkungan masyarakat.

KKL yang telah diprogramkan oleh perguruan tinggi ini memang bertujuan dalam memberikan pengalaman dan wawasan kepada para mahasiswa mengenai kehidupan di masyarakat maupun dunia kerja. Pengalaman belajar yang diperoleh dari kegiatan KKL yang didapatkan mahasiswa harapannya dapat memberikan bekal hidup dalam bersosialisasi dan mengabdi kepada masyarakat selepas dari perguruan tinggi nanti. Dengan adanya pengalaman belajar ini, akan meningkatkan kompetensi mahasiswa dalam mempersiapkan diri menghadapi keadaan masyarakat dan dunia kerja yang sesungguhnya. Melalui pengamatan ataupun observasi ketika KKL, mahasiswa akan melihat berbagai masalah serta cara menghadapi masalah tersebut  yang kadang tidak dapat dijumpai di bangku perkuliahan.

Kuliah Kerja Lapangan juga dimaksudkan untuk meningkatkan relevansi antara perguruan tinggi dengan perkembangan masyarakat serta kebutuhan di dunia kerja akan orang – orang yang mampu mengembangkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) yang didasari oleh Iman dan Taqwa (IMTAQ).  Dengan semakin berkualitasnya lulusan dari perguruan tinggi, tentu akan makin banyak pula lulusan yang dapat diterima dunia kerja. Begitu pula ketika lulusan perguruan tinggi sudah mampu menerapkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan yang dimilikinya kepada masyarakat, maka kedua hal ini akan berdampak baik pula bagi perguruan tinggi.  Hal ini tentunya akan membawa pengaruh terhadap nilai suatu perguruan tinggi dimata masyarakat karena dianggap mampu menghasilkan lulusan yang unggul dan memiliki kemampuan yang dibutuhkan oleh masyarakat.

Menurut Suta Admaja, pelaksaan KKL di perguruan tinggi memberikan bekal kepada mahaiswa dalam membandingkan kajian teoritis yang di dapat di bangku perkuliahan dengan kenyataan di lapangan, serta mampu mengidentifikasi permasalahan di lapangan dan kemudian dapat menawarkan solusi dari permasalahan tersebut.

Kegiatan KKL bukan hanya sekedar kunjungan semata. Harus ada esensi kebermanfaatan yang diperoleh mahasiswa ketika menjalani kegiatan KKL. Pertama, dengan KKL ini mahasiswa dapat membandingkan antara teori yang telah diperoleh di bangku perkuliahan dengan aplikasinya di dunia nyata. Wawasan yang aplikatif saat KKL akan mendukung pengetahuan teoritis yang telah diperoleh mahasiswa. Mahasiswa akan lebih paham dan mengetahui kemungkinan kesalahan ataupun ketidaksesuaian antara teori dan praktik. Sehingga, secara tidak langsung akan membuat mahasiswa terdorong untuk mengatasi kemungkinan kesalahan maupun ketidaksesuaian tersebut.

Kedua, melalui KKL, mahasiswa dapat mengetahui seluk beluk profesi yang berkaitan dengan bidang studi yang sedang dipelajari. Mahasiswa akan dapat menjelaskan mengenai gambaran fungsi, tugas pokok, visi misi  maupun sumber daya manusia yang terlibat dalam kegiatan objek kunjungan KKLnya. Ketiga, dengan pengalaman dan wawasan yang diperoleh ketika KKL, mahasiswa akan lebih siap ketika harus masuk ke dunia kerja dan bersosialisasi dengan masyarakat. Sehingga, para lulusan tidak akan merasa bingung lagi untuk bersikap dan dapat menghadapi segala kemungkinan masalah yang dapat terjadi.

Keempat, pelaksanaan KKL akan mendukung kegiatan akademik selanjutnya bagi mahasiswa. Karena pada umumnya kegiatan KKL lebih banyak berupa kegiatan observasi atau pengamatan, maka hasil dari pengamatan itu yang dapat menjadi sumber inspirasi untuk skripsi yang memang menjadi syarat untuk menyelesaikan studi di perguruan tinggi.

Keberhasilan pelaksaan KKL memang tidak dapat dilihat saat itu juga ketika mahasiswa masih belajar di perguruan tinggi. Hasil pelaksanaan KKL akan berdampak jelas ketika mahasiswa itu telah lulus dari perguruan tinggi. Mahasiswa yang sudah mengikuti KKL, tentu akan lebih paham dan siap untuk menghadapi profesi yang hendak dituju.

Karena kegiatan KKL merupakan program dari perguruan tinggi, tentu ada laporan yang harus disusun. Laporan KKL yang berisi laporan mahasiswa ketika mengikuti KKL dapat dijadikan tolak ukur keberhasilan KKL. Keberhasilan KKL dapat terlihat dari isi laporan. Karena laporan tersebut berisikan diskripsi kegiatan KKL yang diikuti mahasiswa, maka dosen pembimbing dapat melihat sejauh mana kepahaman mahasiswa ketika mengikuti KKL.

Sayangnya, karena hasil pelaksaan kegiatan KKL berupa laporan tertulis, maka banyak mahasiswa saling meniru laporan mahasiswa satu dengan yang lainnya. Budaya copy paste laporan  kakak tingkat pun seolah menjadi hal yang dimaklumi. Hal inilah yang sangat disayangkan karena hal ini mencerminkan bahwa pelaksanaan KKL sering tidak sesuai dengan tujuan utamanya. Sehingga dosen pembimbing semakin sulit untuk mengetahui apakah mahasiswa yang mengikuti KKL itu benar – benar sudah paham atau belum mengenai hal – hal yang berkaitan dengan objek KKL yang telah dikunjungi. Padahal, jika laporan KKL ini ditulis sesuai dengan keadaan dan pemahaman masing – masing individu mahasiswa, maka dosen pembimbing akan dapat melihat dan menilai sejauh mana kepahaman mahasiswa ketika mengkuti KKL.

Kebiasaan buruk budaya copy paste laporan  kakak tingkat kemudian menjadikan mahasiswa berpandangan bahwa KKL hanya sebagai ajang berwisata dan berekreasi dengan mengesampingkan tujuan utama KKL. Objek tujuan KKL pun sekarang ini cenderung ke tempat-tempat wisata seperti pantai, museum, dan instansi yang sebenarnya kurang sesuai dengan disiplin ilmu yang tengah ditekuni. Hal ini berlangsung terus-menerus hingga melahirkan mindset mahasiswa bahwa KKL adalah saat indah untuk berwisata. Tujuan sesunggunya dari KKL lebih sering dikesampingkan. Selain itu, objek KKL dengan tempat tertentu nun jauh disana tentu membutuhkan dana tidak sedikit.

Dosen pembimbing sebenarnya memiliki peranan yang sangat penting dalam KKL. Dosen hendaknya mengarahkan, membimbing, dan mengawal berjalannya KKL. Dosen juga merupakan evaluator kegiatan KKL untuk mengevaluasi keberhasilan KKL sehingga jika ternyata ada mahasiswa yang dirasa kurang paham mengenai segala esensi dan proses kegiatan KKL, maka dosen dapat segera melakukan perbaikan untuk kegiatan KKL yang berikutnya. Namun kenyataannya sekarang ini, kebanyakan dosen yang ikut juga hanya memanfaatkan “fasilitas gratis” dari mahasiswa ini untuk sedikit melepas penat rutinitas mengajar sehari-hari. Laporan hasil KKL pun sering kali hanya sebagai formalitas pasca kegiatan KKL.

Oleh karena itu, perlu adanya kontrol dan pengawasan dari pihak fakultas kepada para dosen. Tidak hanya pembekalan bagi mahasiswa saja, tapi pembekalan dosen sebelum dilaksanakannya KKL juga perlu disampaikan agar para dosen paham akan tujuan dan esensi KKL itu sendiri. Sehingga,tujuan pelaksanaan KKL dapat benar – benar tercapai.

One thought on “KKL Bukan Sekedar Jalan – Jalan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s