Mengingat 5 Pulau Besar di Indonesia dengan Peta Daun

Metode ini saya dapat saat ikut kegiatan Sekolah Alam Bengawan Solo (SABS) Klaten #30JamSoloDiMata. Jadi, agenda #30JamSoloDiMata ini merupakan kegiatan untuk mengenal kota Solo dengan menyusuri jalan dari Taman Balekambang-Manahan-Pasar Nongko-Kampus UNS. Tidak hanya sekedar menyusuri jalan, anak-anak ini juga mempunyai misi untuk mengenal bangunan, benda-benda maupun masyarakat Solo. Sebelum pemberangkatan, anak-anak diminta untuk mengumpulkan 5 daun yang akan dibuat peta 5 pulau besar di Indonesia. Anak-anak bisa kerkreasi untuk mencari daun yang mirip dengan bentuk- bentuk pulau di Indonesia.
Kegiatan menyusun peta tersebut kemudian saya coba terapkan saat di kelas saya sedang membahas tentang Indonesia. Sebelumnya, di kelas 3 memang sudah ada pelajaran untuk mengenal pulau-pulau di Indonesia melalui peta, tapi setelah peta ditutup ternyata tidak semua siswa bisa mengingat pulau-pulau di Indonesia, meskipun hanya 5 pulau besar yaitu Sumatra; Jawa; Kalimantan; Sulawesi; dan Papua. Akhirnya, saya minta anak-anak berkelompok untuk mencari 5 daun yang menurut mereka menyerupai bentuk-bentuk pulau di Indonesia. Hasilnya? bermacam-macam :
2014-08-05 09.30.392014-08-05 09.32.17Dari kegiatan ini ternyata anak-anak bisa lebih mengingat nama-nama 5 pulau besar di Indonesia sekaligus bentuk dan posisinya. Dari alam, sangat membantu anak-anak belajar.

Menggambar. Benarkah sekedar menggambar?

Untuk anak sekolah dasar, umumnya kegiatan yang paling menyenangkan adalah menggambar, terutama untuk anak-anak di kelas saya ini. Ternyata melalui menggambar, kita bisa lihat banyak sisi dari anak-anak kita.

Sebagai contohnya, segi perkembangan daya imajinasi hingga kondisi psikologis anak. Di kelas saya ini (kelas IV SD) terdiri banyak karakter dan kesukaan yang beragam. Ada anak-anak yang memang sudah cukup bagus daya imajinasinya sehingga untuk menggambar bisa “mengalir dengan sendirinya”.

Ada pula yang setiap menggambar masih bingung menggambar apa dan mengatakan “Saya ndak bisa Bu”, bahkan untuk menentukan warna pun harus bertanya kepada guru “Bu, kalau ini warna apa?” kalau untuk 1 kali atau 2 kali tentu tidak masalah, tapi bagaimana kalau anak ini bertanya -“Bu, ini warna apa?”- ketika akan mewarnai setiap bagian gambar yang dia buat? apa ini termasuk masalah?

Kalau menurut saya sendiri ini bisa jadi masalah. Kenapa? bukan karena merasa risih anak-anak terus bertanya, tapi jika dilihat lebih dalam lagi ada masalah rasa kurang percaya diri dan takut mengambil keputusan karena “akan salah” atau “takut nanti hasilnya tidak bagus”. Ketakutan yang seperti ini yang perlu diperhatikan, karena kalau terus dibiarkan, anak nantinya menjadi tidak bisa percaya diri dengan hasil karyanya sendiri.Tingkah laku lanjutannya adalah anak akan lebih memilih mencontek karena takut salah, biarkan orang lain yang mengerjakan karena hasilnya lebih bagus.

Hingga kemudian, si anak ini secara khusus saya temani menggambar dan mewarnai. Memang perlu berkali-kali meyakinkan bahwa dia bisa, “Rian bisa pakai warna apa saja yang Rian suka”.

2014-08-08 10.51.56(Ini adalah gambar yang pertama kalinya Rian buat karena keinginannya sendiri dan warna pilihannya sendiri)

Ucapan-ucapan seperti “gambarku jelek”, “gambarnya lebih bagus dariku”, “Bu, kalau jelek gimana?”, “Bu, ndak bisa, biar digambarin ya?” sering juga terdengar di kelas. Melalui menggambar ini juga, sebenarnya guru dan bisa dapat belajar tentang bangga terhadap karya sendiri, menghargai karya orang lain, melatih percaya diri, meyakinkan bahwa “aku bisa”.

Dari menggambar ini juga dapat dikembangkan kemampuan menulis dan menalar anak dari kegiatan mendeskripsikan gambar secara tertulis, meskipun berawal dari deskripsi sederhana.

2014-08-07 08.10.41(Bukan bermaksud mengajarkan buat “narsis”, tapi supaya anak-anak juga “PD” dengan karyanya)

Reflection

thinking back everything that i have been trough until this time,

i know that i’m can’t not beat them yet,

but, everyone have a chance right?

just depend on our effort to grab it,

i know that i’m not a person that can be admire on,

but, there is no one that can be perfect right?

. . .

everyone is unique

everything that i have been trough is a gift

just cerish it, give my best

and everything will be okay

 

Think Back

Once again, I try to make a little step to moving forward

it’s just so pleasant when I take a look for every steps that I have made

but,

when i look by my side, I realize that my steps still less than the other

they have make a big lap

they can give a big contribution for the other

envious?honestly, it’s slightly yes

but, if I thinking back again,

they deserve for this,

they start far before I start

,.that’s what I regret for, because of my late strarting time

but, that will not make me stop

i believe i can make a big lap too, i deserve for it too

keep make my own step, my own way🙂

(Humble, Cherish everything, Keep Try, Pray and Optimimist)

KLENENGAN SLASA LEGEN

 

Karawitan merupakan bentuk kesenian musik yang telah menjadi kebanggan bagi orang  jawa, bahkan bagi bangsa Indonesia umumnya. Akan tetapi, kebanggan tersebut sepertinya masih belum dirasakan oleh semua kalangan dan generasi. Hal ini terlihat dari partisipasi masyarakat terhadap pelestarian karawitan itu sendiri. Para orang tua-lah yang kebanyakan masih berusaha melestarikan seni karawitan ini. Salah satu buktinya adalah saat Klenengan Selasa Legen yang dilaksanakan di Balai Seodjatmoko, Gramedia Surakarta pada hari Senin, 17 Desember 2012 kemarin.

 DSC04109

Gambar 1. Karawitan Putri Santi Laras

Klenengan Selasa Legen merupakan agenda rutin yang dilaksanakan oleh pihak Gramedia Pustaka. Kali ini (Senin, 17 Desember 2012) pengisi acara klenengan tersebut adalah dari kelompok karawitan putri Santi Laras. Kelompok tersebut berasal dari Kelurahan Joyosuran (kumpulan PKK RW. 06) Kecamatan Pasar Kliwon dengan anggota 20 orang yang dilatih oleh Bapak Kadaryadi. Disebut kelompok karawitan putri karena memang sebagian besar pemain gamelannya adalah perempuan. Akan tetapi, yang menjadi perhatian dalam kelompok karawitan tersebut adalah, para pemainnya adalah para ibu – ibu yang usia sudah lebih dari paruh baya, bahkan sudah ada yang sampai berusia 82 tahun.

 DSC04118

Gambar 2. Ibu – ibu pemain gamelan Santi Laras

DSC04119

Gambar 3. Ibu – ibu pesinden Santi Laras

Meskipun usia mereka sudah tidak muda lagi, tapi mereka terlihat begitu menikmati karawitan yang mereka mainkan. Lagu demi lagu mereka mainkan. Cara lagu – lagu yang ditampilkan dalam Klenenngan Slasa Legen ini agak unik karena ditampilakn dalam bentuk paketan. Ada 4 paket yang ditampilkan, yaitu :

  1. Paket pertama terdiri dari lagu Jamuran, Ayun – ayun, Langgam Wuyung, Lir ilir, Tansah Yaun – Ayun,Wajibe Dadi Murid.
  2. Paket kedua terdiri dari lagu Dolan Menyang Sala, Asmarandana, Puspanjala, Dayohe Teko dan selingan antara paket dua ke paket tiga adalah Mider Projo.
  3. Paket ketiga terdiri dari lagu Gugur Gunung, Sumyar (Keplok Alok), Sumyar (Mideringrat) dan selingan antara paket tiga ke paket empat adalah Langgam Ngenteni.
  4. Paket keempat terdiri dari lagu Langgam Dadi Ati, Leladran Jong Keri, Nahkaning Ndalu, Onde – onde kemudian di akhiri dengan penutup.

 

Melihat hal tersebut ada satu rasa kagum terhadap para ibu – ibu tersebut karena di tengah perkembangan trend saat ini mereka masih mau belajar dan mementaskan pertunjukkan karawitan kepada khalayak umum. Akan tetapi, di sisi lain, ada rasa miris karena tidak ada satupun pemuda ataupun pemudi yang masuk dan ikut memainkan gamelan dalam kelompok tersebut. Hal ini patut menjadi perhatian bagi kita semua karena bagaimanapun juga, yang dapat melestarikan kesenian adalah para pemudanya.

 

MENANAMKAN TOLERANSI DAN SIKAP SALING MENGHARGAI BAGI ANAK SEKOLAH DASAR MELALUI MUATAN LOKAL SENI BUDAYA DAN KETRAMPILAN (SBK)

 

Oleh : Amin Marlinda Choiriasari/Universitas Sebelas Maret

Bhineka Tunggal Ika, itulah semboyan bangsa Indonesia yang merupakan bentuk pernyataan kesatuan bangsa Indonesia atas segala keberagaman dan perbedaan yang ada. Semboyan yang berarti “Berbeda – beda tetapi tetap satu jua” tersebut ternyata telah dicetuskan sejak jaman kerajaan Majapahit ratusan tahun yang lalu. Hal ini menunjukkan bahwa bentuk penghargaan dan toleransi terhadap perbedaan telah ada sejak jaman dahulu. Semboyan ini pula yang kemudian mengantarkan kerajaan Majapahit menjadi kerajaan dengan wilayah yang sangat luas mencakup berbagai macam ras dan suku yang ada di wilayah Nusantara.

Dari pengalaman kerajaan Majapahit itulah, para tokoh peletak dasar negara Indonesia tetap menggunakan semboyan Bhineka Tunggal Ika sebagai semboyan bangsa Indonesia dengan harapan bahwa bangsa Indonesia akan terus berjaya diatas perbedaan yang ada. Semboyan tersebut telah menjadi pengingat penting bagi seluruh bangsa Indonesia bahwa segala bentuk perbedaan ras, suku, bahasa daerah, perbedaan pemahaman maupun keyakinan bukanlah sebuah penghalang untuk menjadi kesatuan bangsa yang kuat.

Toleransi dan saling menghargai adalah sikap yang tersirat dalam semboyan Bhineka Tunggal Ika. Tanpa adanya toleransi dan sikap saling menghargai, bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang lemah karena setiap orang saling mencela dan menganggap dirinya paling baik diantara yang lainnya.

Sikap yang menganggap dirinya paling baik inilah yang pada saat ini sering menjadi pemicu pertikaian ataupun permusuhan yang terjadi di Indonesia. Sudah sering terdengar berita mengani kerusuhan antar etnis dan suku karena disebabkan oleh perbedaan pendapat, budaya, ataupun keyakinan. Sebagai contohnya adalah konflik Sampit antara suku Dayak asli dengan migran Madura yang telah merenggut nyawa. Tidak hanya itu, pertikaian antar suku di wilayah Papua juga sering terjadi meskipun mereka telah hidup dalam era modern seperti sekarang ini.

Tidak hanya lingkup nasional, dalam lingkungan masyarakat desa timbul permusuhan karena adanya perbedaan pemahaman dan keyakinan. Sebagai contoh, dalam pernikahan dengan adat jawa pasti ada serangkaian ritual – ritual atau tata cara pernikahan yang harus dilakukan. Bagi sesepuh yang telah hidup dengan adat jawa yang sangat kental, tentu ritual – ritual tersebut harus dilakukan. Akan tetapi, bagi beberapa orang, seringkali ritual – ritual atau tata cara pernikahan dengan adat jawa dianggap sebagai bentuk penyelisihan terhadap syariat agama. Kemudian, karena kurangnya sikap toleransi dan anggapan bahwa keyakinannyalah yang paling baik, sering terjadi kesalahpahaman saat salah satu pihak berusaha untuk mengingatkan. Kesalahpahaman inilah yang kemudian sering berujung pada pertikaian.

Pertikaian tersebut tidak akan terjadi jika saja ada sikap toleransi dan saling menghargai di dalam jiwa masyarakat. Pertikaian atau kesalahpahaman seperti contoh diatas juga dapat terjadi karena ketidakpahaman seseorang mengenai maksud atau pesan yang tersirat dalam ritual kebudayaan atau adat istiadat. Sehingga, ketika orang tersebut mengingatkan, yang disampaikan adalah dari sudut pandang dirinya saja yang menganggap bahwa adat istiadat tersebut salah. Akan tetapi, bagi pihak sesepuh atau orang – orang yang menjunjung tinggi adat istiadat, apa yang mereka lakukan merupakan suatu hal yang benar.

Oleh karena itu, pendidikan kebudayaan sangat diperlukan untuk dapat memupuk sikap toleransi dan saling menghargai diantara masyarakat. Terlebih lagi, pendidikan kebudayaan akan lebih efektif untuk menanamkan sikap toleransi dan saling menghargai ketika dilaksanakan sejak kecil. Salah satu cara pelaksanaan pendidikan kebudayaan yang efektif adalah melalui pendidikan di lingkungan sekolah, terutama di sekolah dasar. Sistem pendidikan sekolah yang tersistem akan membantu kelancaraan pendidikan kebudayaan. Pendidikan kebudayaan dapat diberikan melalui mata pelajaran tersendiri maupun dapat disisipkan dalam mata pelajaran yang lain.

Pendidikan kebudayaan melalui mata pelajaran tersendiri dapat dilaksanakan melalui muatan lokal Seni Budaya dan Kesenian atau sering disingkat dengan SBK. Dari namanya, sudah terlihat bahwa muatan lokal ini berisi pelajaran mengenai budaya dan seni yang disertai dengan ketrampilan untuk para siswa. Dengan mata pelajaran yang waktunya sudah dialokasikan tersendiri guru dapat memberikan pengetahuan mengenai kebudayaan baik dari segi sejarah, pesan yang tersirat di dalam kebudayaan itu maupun pengetahuan mengenai tata cara pelaksanaannya secara maksimal. Dengan bekal pengetahuan budaya inilah diharapkan akan terpupuk rasa cinta terhadap budaya di dalam diri para siswa, sehingga rasa cinta tersebut akan mendorong siswa untuk selalu menjunjung toleransi dan saling menghargai keberagaman maupun perbedaan budaya yang ada di sekitarnya. Tidak akan ada lagi perasaan ‘paling baik’ atau ‘paling benar’, yang ada hanyalah rasa saling memiliki antar budaya.

Dengan penanaman toleransi dan sikap menghargai sejak dini, diharapkan kelak siswa dapat membawa sikap tersebut sampai dewasa nanti. Sehingga tidak akan ada lagi berita mengenai pertikaian ataupun kerusuhan yang terjadi di Indonesia.