MENANAMKAN TOLERANSI DAN SIKAP SALING MENGHARGAI BAGI ANAK SEKOLAH DASAR MELALUI MUATAN LOKAL SENI BUDAYA DAN KETRAMPILAN (SBK)

 

Oleh : Amin Marlinda Choiriasari/Universitas Sebelas Maret

Bhineka Tunggal Ika, itulah semboyan bangsa Indonesia yang merupakan bentuk pernyataan kesatuan bangsa Indonesia atas segala keberagaman dan perbedaan yang ada. Semboyan yang berarti “Berbeda – beda tetapi tetap satu jua” tersebut ternyata telah dicetuskan sejak jaman kerajaan Majapahit ratusan tahun yang lalu. Hal ini menunjukkan bahwa bentuk penghargaan dan toleransi terhadap perbedaan telah ada sejak jaman dahulu. Semboyan ini pula yang kemudian mengantarkan kerajaan Majapahit menjadi kerajaan dengan wilayah yang sangat luas mencakup berbagai macam ras dan suku yang ada di wilayah Nusantara.

Dari pengalaman kerajaan Majapahit itulah, para tokoh peletak dasar negara Indonesia tetap menggunakan semboyan Bhineka Tunggal Ika sebagai semboyan bangsa Indonesia dengan harapan bahwa bangsa Indonesia akan terus berjaya diatas perbedaan yang ada. Semboyan tersebut telah menjadi pengingat penting bagi seluruh bangsa Indonesia bahwa segala bentuk perbedaan ras, suku, bahasa daerah, perbedaan pemahaman maupun keyakinan bukanlah sebuah penghalang untuk menjadi kesatuan bangsa yang kuat.

Toleransi dan saling menghargai adalah sikap yang tersirat dalam semboyan Bhineka Tunggal Ika. Tanpa adanya toleransi dan sikap saling menghargai, bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang lemah karena setiap orang saling mencela dan menganggap dirinya paling baik diantara yang lainnya.

Sikap yang menganggap dirinya paling baik inilah yang pada saat ini sering menjadi pemicu pertikaian ataupun permusuhan yang terjadi di Indonesia. Sudah sering terdengar berita mengani kerusuhan antar etnis dan suku karena disebabkan oleh perbedaan pendapat, budaya, ataupun keyakinan. Sebagai contohnya adalah konflik Sampit antara suku Dayak asli dengan migran Madura yang telah merenggut nyawa. Tidak hanya itu, pertikaian antar suku di wilayah Papua juga sering terjadi meskipun mereka telah hidup dalam era modern seperti sekarang ini.

Tidak hanya lingkup nasional, dalam lingkungan masyarakat desa timbul permusuhan karena adanya perbedaan pemahaman dan keyakinan. Sebagai contoh, dalam pernikahan dengan adat jawa pasti ada serangkaian ritual – ritual atau tata cara pernikahan yang harus dilakukan. Bagi sesepuh yang telah hidup dengan adat jawa yang sangat kental, tentu ritual – ritual tersebut harus dilakukan. Akan tetapi, bagi beberapa orang, seringkali ritual – ritual atau tata cara pernikahan dengan adat jawa dianggap sebagai bentuk penyelisihan terhadap syariat agama. Kemudian, karena kurangnya sikap toleransi dan anggapan bahwa keyakinannyalah yang paling baik, sering terjadi kesalahpahaman saat salah satu pihak berusaha untuk mengingatkan. Kesalahpahaman inilah yang kemudian sering berujung pada pertikaian.

Pertikaian tersebut tidak akan terjadi jika saja ada sikap toleransi dan saling menghargai di dalam jiwa masyarakat. Pertikaian atau kesalahpahaman seperti contoh diatas juga dapat terjadi karena ketidakpahaman seseorang mengenai maksud atau pesan yang tersirat dalam ritual kebudayaan atau adat istiadat. Sehingga, ketika orang tersebut mengingatkan, yang disampaikan adalah dari sudut pandang dirinya saja yang menganggap bahwa adat istiadat tersebut salah. Akan tetapi, bagi pihak sesepuh atau orang – orang yang menjunjung tinggi adat istiadat, apa yang mereka lakukan merupakan suatu hal yang benar.

Oleh karena itu, pendidikan kebudayaan sangat diperlukan untuk dapat memupuk sikap toleransi dan saling menghargai diantara masyarakat. Terlebih lagi, pendidikan kebudayaan akan lebih efektif untuk menanamkan sikap toleransi dan saling menghargai ketika dilaksanakan sejak kecil. Salah satu cara pelaksanaan pendidikan kebudayaan yang efektif adalah melalui pendidikan di lingkungan sekolah, terutama di sekolah dasar. Sistem pendidikan sekolah yang tersistem akan membantu kelancaraan pendidikan kebudayaan. Pendidikan kebudayaan dapat diberikan melalui mata pelajaran tersendiri maupun dapat disisipkan dalam mata pelajaran yang lain.

Pendidikan kebudayaan melalui mata pelajaran tersendiri dapat dilaksanakan melalui muatan lokal Seni Budaya dan Kesenian atau sering disingkat dengan SBK. Dari namanya, sudah terlihat bahwa muatan lokal ini berisi pelajaran mengenai budaya dan seni yang disertai dengan ketrampilan untuk para siswa. Dengan mata pelajaran yang waktunya sudah dialokasikan tersendiri guru dapat memberikan pengetahuan mengenai kebudayaan baik dari segi sejarah, pesan yang tersirat di dalam kebudayaan itu maupun pengetahuan mengenai tata cara pelaksanaannya secara maksimal. Dengan bekal pengetahuan budaya inilah diharapkan akan terpupuk rasa cinta terhadap budaya di dalam diri para siswa, sehingga rasa cinta tersebut akan mendorong siswa untuk selalu menjunjung toleransi dan saling menghargai keberagaman maupun perbedaan budaya yang ada di sekitarnya. Tidak akan ada lagi perasaan ‘paling baik’ atau ‘paling benar’, yang ada hanyalah rasa saling memiliki antar budaya.

Dengan penanaman toleransi dan sikap menghargai sejak dini, diharapkan kelak siswa dapat membawa sikap tersebut sampai dewasa nanti. Sehingga tidak akan ada lagi berita mengenai pertikaian ataupun kerusuhan yang terjadi di Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s